Senin, 23 November 2015

Sawah Itu Tertimpa Beton-Beton Cor (Ketimpangan Antar Sektor Ekonomi)



Kasus pengalihan lahan persawahan menjadi perumahan di Kenteng, Kateguhan, Tawangsari, Sukoharjo merupakan bukti ketimpangan antar sector. Sejatinya Indonesia adalah negara agraris, dimana tongkat, kayu dan batu dapat menjadi tanaman. Kemudian pertanian merupakan sector penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, mencapai 34%. Namun faktanya banyak kondisi dimana petani Indonesia semakin tertindas oleh sektot-sektor lain, dalam hal ini adalah sector perumahan.
            Banyaj lahan persawaha  hijau di daerah tersebut telah disulap menjadi lahan yang ditanami beton-beton cor tinggi menjulang. Beberapa pemiliki lahan menjual sawahnya karena merasa pertanian bukanlah sector yang menjanjikan. Padahal kalau kita bercermin ke negara Amerika Serikat, negara adidaya tersebut juga negara agraris dengan komoditi utamanya adalah jagung. Dari sector pertanian telah ikut menopang perekonomian negara tersebut. Kenudian menurut hasil Musyawarah Nasional Perhimpuan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) tahun 2003 menyatakan bahwa sector pertanian merupakan “jantung” pembangunan nasional negara kita.
            Jika ketimpangan antara sector pertanian dan perumahan tidak segera diatasi maka akan menimbulkan kemiskinan, karena petani yang menggarap lahan orang lain akan semakin kehilangan lapangan pekerjaannya. Semakin banyak yang meninggalkan sector pertanian, sehingga tidak terciptanya swasembada pangan. Padahal kebutuhan pangan nasional kita tidak terpenuhi dan harus mengimport bahan pangan dari luar negeri. Devisa negara juga semakin kering, karena sector andalan kita semakin merosot produksinya.
            Berbagai hal yang akan saya lakukan untuk menngurangi ketimpangan ini adalah dengan melaksanakan program “Cangkul Pandu Dewanata” yang berisikan program untuk melindungi para petani seperti :

  1. Asuransi Pertanian, program ini dimaksutkan untuk melindungi petani dari kegagalan panen, sehingga sisi financial petani akan menjadi stabil. Asuransi akan diberikan kepada petani yang memenuhi persyaratan seperti lahan maksimal 2 hetar dan bersedia membayar premi, hanya tinggal mendaftar kepada petugas kelurahan. Dalam program ini kita dapat bekerjasama dengan Perusahaan Asuransi dan pemerintah hanya sebagai fasilitator. Pada awalnya pemerintah akan member subsidi premi agar jumlah premi dapat dijangkau masyarakat, selanjutnya jika dirasa petani tersebut dapat mandiri makan subsidi tersebut akan dicabut. Pemerintah membentuk BPP (Badan Pengawas Pertanian) ditinggal kelurahan agar dapat mengawasi jalannya program ini sehingga tanpa ada penyelewengan. Program ini saya jamin tidak akan menguras kantong negara, kerena dengan adanya program ini kekuatan eksport kita menjadi stabil.
  2. Beasiswa Anak Petani, anak petani adalah aset Indonesia dimasa depan karena dewasa ini kuranng minatnya penduduk Indonesia bekerja dibidang pertanian. Kita dapat member beasiswa kepada anak petani agar dapat sekolah di bidan pertanian, kemudian saat telah lulus bersama ilmu yang modern mereka membangun sector pertanian kita.
  3. Sertifikasi Petani, orang banyak perpandangan bahwa petani itu pekerjaan rendah. Padahal tanpa da petani nasi-nasi itu tidak mungkin hadir di meja makan kalian. Sertifikasi Petani ini akan saya tujukan kepada petani yang telah terjun dalam dunia pertanian minimal 5 tahun, memiliki kemampuan menjaga kwalitas produksinya. Petani yang memiliki criteria tersebut dapat mendaftar kepada RT kemudian berkas akan diteruskan kepada pengurus desa. Dengan adanya Sertifikasi Petani maka para petani akan mendapat tunjangan setiap bulannya, tunjangan tersebut dapat mereka gunakan untuk mengembangkan pertaniannya. Program ini juga menjamin masa depan petani dan mengangkat derajat mereka.
  4. Mendirikan Balai  Penelitian, dengan adanya balai penelitian maka setiap hari sector pertanian akan terus dikaji. Akan didapat produk pertanian yang berkwalitas dan bersaing dengan produk luar negeri. Selain itu akan muncul terobosan baru seperti bibit unggul yang tahan akan cuaca ekstream namun hasilnya tetap baik.
Semoga Indonesia akan menuju penghidupan layak dengan ketimpangan yang kecil. Saya memimpikan Indonesia dengan swasembada pangan yang baik, tanpa import dari luar negeri. Program ini akan saya jalankan bersama Komisi IV DPR-RI dan Kementerian Pertanian kita.


Dwi Fitra Prihatno
Duta DPR-RI 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar