Salam Budaya, untuk seluruh Sobat Budaya. Bersyukur masih dipertemukan dalam artikel ini, semoga Sobat Budaya
yang budiman selalu dalam lindungan-Nya.
Apa yang terlintas dibenak Sobat Budaya saat mendengar “28 Oktober”?
Mungkin tanggal jadian, mungkin juga tanggal putus sama pacar. Tapi bukan itu
yang penulis maksut, guys. Tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Sumpah
Pemuda, berikut bunyi sumpahnya :
Pertama
:
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua
:
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga
:
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Dibalik tiga
sumpah ini terkadung makna yang amat mendalam, sumpah pemuda sebgai tonggak
awal perjuangan persatuan Indonesia. Saat itu pemuda Indonesia sedang
berapi-api melupakan rasa cinta tanah airnya dan bersumpah untuk bertanah air
satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Kita sebagai pemuda abad 20 harus
bisa mempertahankan rasa cinta tanah air pemuda saat itu.
Cinta tanah
air tidak harus diluapkan dengan cara angkat senjata, tidak harus berdemo. Kita
sebagai pemuda harus bisa berfikir kritis, jangan sampai melakukan tindakan
yang dapat mengganggu kedamaian bangsa. Pada tanggal 28 Oktober 2015 kemarin
penulis sedang berada di Gedung DPR karena sedang mengikuti Parlemen Remaja
2015, dan saya berkata “Seperti ini rasanya didemo.” Kita dapat meluapkan rasa
cinta tanah air kita melalui hal kecil namun akan memiliki hasil besar,
contohnya dengan mengikuti Gerakan Sejuta Data Budaya. Hal ini dapat
meningkatkan rasa cinta kita terhadap banyaknya budaya di Indonesia.
Selain itu
rasa nasionalis kita bisa kita ungkapkan dengan lagu-lagu yang melahirkan
semangat untuk menuju Indonesia Maju. Dewasa ini sedang popular music-musik
yang memiliki aliran “Galau” aliran yang music membuat “Baper”, maklum saja
penulis juga mengalaminya. Kita sebagai Sobat Budaya juga harus bisa
meningkatkan rasa cinta kepada lagu-lagu
tradisional atau kedaerahan.
Menurut
penulis lagu daerah memiliki nilai-nilai moral yang baik untuk ditanamkan dalam
kehidupan bermasyarakat. Seperi lagu “Lir ilir” dari Jawa Tengah.
Lir-ilir,
lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing
kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh
dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing
pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo
mengko sore
Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten
anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing
kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh
dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing
pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo
mengko sore
Mumpung padhang rembulane,
mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…
Lagu ini memiliki pesan agar kita semua tidak
bermalas-malas, kita harus bangkit dari rasa malah. Kemudian kita juga harus
menjaga hati kita agar terhindar dari nafsu yang buruk. Jika ingin membahas
maknanya akan kita dapatkan wejangan yang dapat kita gunakan dalam
bermasyarakat.
Banyak
yang dapat kita gunakan untuk meningkatkan rasa cinta budaya, salah satunya
adalah media masa. Ada aplikasi IndoMuse yang
memiliki 1.070 lagu tradisional lewat pendataan Gerakan Sejuta Data Budaya. Ayo
Sobat Budaya kita terus meningkatkan rasa cinta budaya dan rasa cinta tanah
air. Semoga dalam momentum sumpah pemuda kali ini bayak pemuda yang hatinya
tergugah untuk ikut bahu-membahu menuju Indonesia Maju.
Terimakasih
Dwi Fitra Prihatno
Tidak ada komentar:
Posting Komentar